Merajut Kisah Cinta dalam Pernikahan


Fitrah manusia adalah mencintai dan dicintai. Jangan sampai kita memungkiri hal ini. Dua buah hal yang saling berkaitan satu sama lain. Ketika kita mencintai seorang insan, pasti kita berharap untuk dicintainya. Media yang tepat untuk mewadahi rasa cinta kita adalah PERNIKAHAN.

Setiap manusia pasti membayangkan sebuah pernikahan yang indah dan romantis tentunya. Saat kita masih hidup dalam kesendirian, pasti kita membayangkan punya pendamping hidup yang siap mendengarkan keluh kesah kita, mendukung kegiatan kita, dan pastinya ingin dicintai oleh pasangan kita.
Jika saya kutip dari sebuah buku, pernikahan itu tidak seindah pernikahan Cinderella. Ya, tentu saja, kisah cinta Cinderella berakhir dengan pernikahan. Sedangkan kisah cinta kita baru akan dimulai saat kita menikah. Satu hal lagi, Cinderella tidak tahu menahu persoalan-persoalan dalam pernikahan. Seperti urusan bayar listrik, belajar bertetangga, dan lain-lain.

Indahnya pernikahan itu adalah ketika kita mengarungi bahtera kesulitan bersama pasangan kita. Itulah yang indah, bukan dibilang indah jikalau kita hanya menikmati keindahan duniawinya saja.
Ketika kita belum menikah, kita selalu terbayang indahnya pernikahan itu seperti jalan berdua dengan pasangan kita, menikmati tempat romantis, dan lain-lain. Padahal isi pernikahan bukan hanya itu, ada ujian-ujian yang Allah berikan untuk membuktikan cinta kita pada pasangan kita, dan pada Allah tentunya. Jika ingat ujian yang Allah berikan, maka saya teringat sebuah kisah cinta yang indah di zaman Rasul Allah SAW. Abu Talhah dan Ummu Sulaim. Saya akan membahasnya ringkas saja.

Ummu sulaim adalah seorang wanita yang cantik, ketika itu ada seorang Lelaki yang ingin menikahinya, Abu talhah namanya. Sayangnya, lelaki ini masih kafir, sehingga ummu sulaim menolaknya dengan halus. Bahkan, Abu talhah menanyakan “apakah yang kau inginkan adalah kuning dan putih (emas dan perak)?” Ummu sulaim tidak menginginkan keduanya. Hingga rasa cinta yang dipendam oleh Abu talhah ini sudah pada puncaknya, ia tetap nekat melamar ummu sulaim, apa jawaban dari Ummu Sulaim “Wahai abu talhah, Jika engkau masuk Islam, maka itulah maharku.”

Mengucap syahadat di zaman Rasulullah tidak semudah yang kita kira, harus siap dengan hinaan oleh kafir quraisy. Bukan seperti di Indonesia, dengan mudah mengucap syahadat untuk sebuah pernikahan. Itu baru sepenggal kisah cinta mereka. Masih berlanjut, tentu saja ada kisah menarik lainnya yang lebih indah dari ummu sulaim dan abu talhah. Inilah ujian terberat dalam kisah cinta mereka, ketika itu mereka yang berbahagia dikaruniai seorang putra, namun putra mereka ini mengalami sakit keras. Hingga abu talhah menemui Rasulullah untuk menenangkan hatinya. Abu talhah pergi bersama Rasulullah SAW, hingga menjelang isya’. Tanpa Abu talhah tahu, putranya yang dicintai meninggal dunia. Ummu Sulaim dengan tenang menyolatinya, memandikan, dan menguburkannya.

Sepulangnya Abu Talhah ke rumah, Ummu Sulaim tampil cantik, bahkan lebih cantik dari sebelumnya di malam pertama. Dengan tutur kata yang lembut, Ummu sulaim melayani suaminya dengan baik, menyiapkan makan, dan bahkan memadu kasih yang suci hingga penghujung malam. Lalu, Ummu sulaim bertanya “wahai suamiku, bagaimana pendapatmu jika suatu kaum meminjamkan sesuatu kepada kaum lain, lalu kaum tersebut memintanya kembali barang tersebut untuk dikembalikan, apakah mereka berhak menolaknya? “Tentu saja tidak” Jawab Abu Talhah.

“Ketahuilah suamiku, sesungguhnya Allah telah meminjamkan anakmu kepadamu, kemudian Dia mengambilnya kembali, karenanya berharaplah dan bersabarlah.”

Kata-kata tersebut bak belati yang menghujam abu talhah. Dalam pikirnya bagaimana mungkin, anaknya meninggal lalu dia bersenang-senang dengan istrinya. Tapi inilah kehebatan Ummu sulaim yang dipuji oleh Rasulullah SAW, hingga beliau mendoakan “Semoga Allah memberikan berkah kepada kalian di akhir malam kalian tadi”

Mampukah kita menghadapi ujian setelah kita menikah, seperti halnya Ummu Sulaim dan Abu Talhah. Bukan saya ingin menjauhkan dari pernikahan, akan tetapi ada baiknya ketika kita mempersiapkan diri menuju proses kehidupan yang indah ini. Ujian dalam pernikahan memang berat, bahkan cinta pun kadang tak sanggup menahan beban ujian dalam pernikahan. Lantas apa yang sanggup memikul ujian pernikahan ini? Keimanan lah yang sanggup memikulnya.

Wallahu’alam

One Response

  1. Assalam alaikum
    I need your permission to use this marriage image:

    If it is yours, permit me to use it at my matrimonial blog. Or, if it is not yours, let me know whom to ask.

    Best regards, Dr. Mohamed Taher

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: